Wild Hogs

April 9th, 2007 by tsabita

Wildhogs_posterbig

Sebelum screening film ini, awalnya saya agak ragu mau ikut nonton. Dan pas lihat gambar2nya, saya pikir film ini bukan film yang saya suka, karna saya lebih suka film2 ber-genre romatis, abg, horror, dan komedi.. dari gambar2nya Wild Hogs, terlihat lelaki bermotor dan tampilan yang urakan.. hmm.. tapi akhirnya saya nonton juga.. sebelum film dimulai, awalnya saya pikir paling 1/2 jam  bakalan keluar dari gedung 21 ini karna ada keperluan…….

tapi ternyata……..pas belum ada 5 menit film ini dimulai.. awalnya2 aja udah lucu..  ternyata film ini film komedi yang super lucu banget.. jadilah saya nonton sampai akhir film..
Penasaran kan? Ini sedikit cerita filmnya..

Wild Hogs menceritakan tentang 4 orang lelaki setengah baya yang sedang mengalami stress dengan kehidupannya. Bobby (Martin Lawrence), si suami takut istri yang sudah lama tak bekerja dan kali ini ia harus kembali berprofesi sebagai pembersih toilet. Doug (Tim Allen), si dokter gigi yang merasa kurang dekat dengan anaknya, Woody (John Travolta) si pengusaha yang sedang mengalami bangkrut dan ditinggal istrinya yang berprofesi sebagai model bikini, dan Duddley (William H. Macy), si programmer lugu yang langsung gemetar dan salah tingkah kalau bertemu dengan wanita cantik.

Untungnya, 4 orang sahabat ini sama-sama masih memiliki hobi motor gede sebagai pelampias kebosanan. Nama gang motor mereka adalah Wild Hogs (Celeng Liar). Suatu saat, Woody mengajak teman-teman nya ini untuk jalan-jalan ke luar kota, atau istilahnya ‘touring’ dengan motor-motor mereka, tanpa hp, tanpa rencana yang matang, pokoknya jalan-jalan dengan motor dengan bebas.. lepas dari rutinitas sehari-hari.. Akhirnya, jadilah mereka saling membuang ponselnya masing-masing supaya perjalanan motor ini nggak bakalan terganggu..

Whcdf10056Yang lucu lagi, saat mereka akan bermalam di sebuah tenda.. ada adegan lucu Duddley dengan kantung plastik ‘kesayangannya’, dan tenda yang terbakar gara-gara tanpa sengaja Doug membuang marshmellow hangus ke arah tendanya.. bukannya air yang disiram, Duddley malah menyiram tenda dengan bensin.. Sukseslah mereka tidur diatas satu kasur.. Paginya, mereka sudah dikejutkan dengan polisi hutan yang menyangka mereka kaum gay yang sedang tidur bareng..(situasi saat itu sangat mendukung anggapan polisi ini) Lucunya lagi, polisi itu ternyata juga gay! Jadilah mereka langsung terbirit-birit lari dari polisi centil ini.

Whcdf19270Masalah mulai timbul saat Wild Hogs mampir ke sebuah klub/restoran yang ternyata di dalamnya gerombolan gank motor yang bermuka garang. Tapi berhubung sudah terlanjur masuk, mereka berusaha untuk tidak berbuat masalah. Tapi sayang, si kepala gank Del Fuegos malah memaksa untuk mengambil motor Duddley. Tak berapa lama meninggalkan restoran, Woody, si lelaki yang ingin selalu dianggap hebat, tidak bisa menerima kejadian ini. Ia memaksa ingin merebut kembali motor Duddley. Jadilah ia sendirian kembali lagi ke klub dengan diam-diam membawa kabur motor Duddley dan mengatakan ke teman-temannya kalau ia sudah berbicara baik2 dengan gerombolan jah
at itu. Padahal, tanpa sepengetahuan teman-temannya, mereka dalam masalah besar. Woody diam-diam memotong saluran bensin di semua motor gank Del Fuegos. Alhasil saat gerombolan ini ingin mengejar Wild Hogs, bensin mereka berceceran
.. dan ternyata, rokok yang dijatuhkan salah satu kru gank ini malah meledakkan beberapa motor dan seluruh restoran milik almamater gank mereka. Nggak salah lagi, gerombolan Del Fuegos langsung naik pitam dan berencana untuk balas dendam dengan Wild Hogs.

NaWhcdf04959_04956rh, bagaimana nasib Wild Hogs?
Bisakah Woody menyembunyikan masalah ini sendiri? Dan bisakah Wild Hogs yang hanya terdiri dari 4 orang biasa-biasa ini menghadapi gerombolan gank yang suka membuat onar? Apalagi, karena saking takut, Woody mengajak mereka tuk ngebut tanpa sempat mengisi bensin..

Jangan sangka film ini akan banyak adengan sedih dan ceceran darah.. Sebaliknya, banyak adegan lucu dalam film ini.      
Penasaran? lihat sendiri aja filmnya.. nggak bakalan rugi deh!

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

October 17th, 2006 by tsabita


~Dikutip dari hasil karya M. Fauzil Adzim~

Bila
malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah
istri Anda
yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah
wajahnya yang masih
dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian
ini badannya tak
menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap,
Kalau saja tak ada air
wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari,
barangkali sisa-sisa
kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok
hari. Di saat Anda sudah bisa
merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih
istri Anda barangkali
belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara dia
langsung
dihadapkan oleh tugas2 yg sdh menunggunya, membereskan rumah,

memikirkan makanan apa yg hrs dihidangkan hari ini atau bahkan bersiap
untuk berangkat kerja sedangkan anak-anak sebentarlagi akan meminta

perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan
tangis serta
membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru
berganti pakaian,
sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda
pula yang harus
mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia?
Masihkah Anda
memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara
lembut kepada
anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di
saat yang
sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian,
santun
dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam
menjalani
tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang
sesungguhnya
bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya
yaitu
membantu mencari nafkah.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai
hati mendambakan tentang seorang
perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku
halus dan lembut? Tentu
saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri
kita membentak
anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin
mengajak Anda
melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak
pernah
menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu
pula
manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan
untuk
tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak.
Disaat
itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita
rnenjerit
karena cubitannva yanq bikin sakit.

Apa artinya? Benar,
seorang istri shalihah memang tak boleh
bermanja-manja secara
kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi
istri shalihah tetaplah
manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga
butuh diakui dan dihargai meski
tak pernah meminta kepada Anda. Sementara
gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi
dada, butuh telinga yang mau
mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah
menemukan muaranya
berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda
akui
keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali
dirimu
sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang
suaminya
tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami
situasi-situasi
yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan
karena
Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar
api
kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah
yang
sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok
yang
dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita.
Ketika kita
menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh,
maka bukan
hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada
kehangatan
yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku,
dalam
menghadapi anak-anak setiap hari. Ada juga perasaan aman dan dilindungi

dalam kelangsungan hidupnya dan anak-anaknya baik secara materi dan non

materi.

Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu
tetap
menemukan bundanya
sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian,
cinta dan kasih-sayang. Ada
ketulusan yang
harus kita usapkan kepada
perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap
memiliki energi untuk tersenyum
kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun
ia.

Ada lagi yang lain:
pengakuan dan penghargaan. Meski ia tidak pernah
menuntut,
tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya,
marilah
kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu
telah
melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih
itu.
lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan
sekedar
Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan
kata
yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah
betapa
banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu,
alangkah
bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman
hangat
yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir
cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir
minuman
hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"

Sulit
melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin
sekedar
membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin
juga dengan
tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita
terlibat dengan
pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si
mungil sebelum
mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly;
tetapi semata karena
mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas
karena Allah, tak ada artinya
apa yang kila lakukan. Kita tidak akan
mendapati amal-amal kita saat berjumpa
dengan Allah di yaumil-kiyamah.
Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan,
terserah Anda. Yang jelas,
ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima
kasih atau tindakan
yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga
dengan kerelaan kita
untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang
menetes dari
kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka
telinga
baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di
atas
bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian
yang
kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang
kita
sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang
suaminya,
Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan
bagiku."

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih,
sesudah
engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah
ia
sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang
mungkin
bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut
untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang
tak
lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang
mulia,
sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang
mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita
ingat
kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita.
"Wahai
manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian
sebagaimana
kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah," kata Rasulullah
Saw.
melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah,
dan
kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah
kepada
Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian
untuk
selalu berbuat baik. "
Kita telah mengambil istri kita sebagai
amanah dari Allah. Kelak kita
harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana
kita menunaikan amanah
dari-Nya, apakah kita mengabaikannya sehingga
gurat-gurat an dengan cepat
rnenggerogoti wajahnya, jauh lebih awal dari usia
yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk
istri ? Saya
tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai
suami Saya
sudah cukup
baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan
di mata istri.
Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan
kekurangan saya
sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima
apa adanya.

Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan
untuknya.
Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri
Anda.

30 H A R I M E N J E M P U T B E R K A H

August 7th, 2006 by tsabita


@@gym

    Hari ke-1 : DENDAM DAN BENCI

" Hati Manusia Berubah-ubah, Sekarang marah Mungkin besok Lusa Sudah Reda, bahkan Mungkin Lebih Sayang Kepada Kita. Oleh Karena Itu Jangan Mendendam atau Benci Berkepanjangan"

      Hari ke-2 : TAK TAHU

"Keberanian Untuk Mengatakan tak TAhu Untuk Yang Tak Diketahuinya, Jauh Lebih Menenangkan Dan Dihormati Daripada Selalu Ingin Terlihat SERBA TAHU atau SOK TAHU"

      Hari ke-3 : PEKA ILMU

" HAti Yang Bersih Akan Peka Terhadap Ilmu. Apa pun Yang Dilihat, Didengar, DIrasa, Akan Jadi Samudra Ilmu Yang Membuatnya Kian Bijak, Arif, dan tepat Dalam Menyikapi Hidup Ini"

      Hari ke-4 : HINDARI KONFLIK

" Konflik biasanya terjadi Karena SAYA BENAR dan KAMU SALAH. Berilah Kesempatan Hati Mengatakan Kita Benar dan Dia Pun Boleh Jadi Benar. Insya ALLAH akan Mudah Mencari Solusi.

      Hari ke-5 : ISTIQAMAH BERBUAT BAIK

" Mustahil Semua Orang Akan Menyukai Kita Walaupun Kita Berbuat Baik Semaksimal Mungkin. Tidak Usah Aneh dan Kecewa, Terus Saja Berbuat Yang Terbaik Karena itulah Yang Kembali Kepada Kita "

      Hari ke-6 : HINA DAN MULIA

" Orang Akan Mengeluarkan Apa Yang Akan Dimilikinya. Orang Hina Akan Mengeluarkan Kata-Kata Hina Dan Menghina. Orang Mulia Akan Mengeluarkan Kata Dan Sikap Mulia."

      Hari ke-7 : KUNCI SUKSES

" Kunci Sukses Adalah Kegigihan Untuk Memperbaiki Diri Dan Kesungguhan Untuk Mempersembahkan Yang terbaik Dari Hidup Ini."

      Hari ke-8 : PEMBAKAR SEMANGAT

" Jangan Pernah Kritik, Koreksi, Bahkan Hinaan Meresahkan Dan Memperlemah Semangat Kita. Bahkan, Jadikanlah Sebagai Pembakar Semangat Untuk Memberi Bukti Sebagai Jawaban "

      Hari ke-9 : LADANG AMAL

" Kian Bening Hati Kita, Kian Peka Terhadap Ladang Amal. Kian Mudah Berbuat Kebaikan. Ketahuilah Rezeki Terbesar Kita Bukanlah saesuatu Yang Didapatkan, Melainkan Amal Yang Dilakukan."

      Hari ke-10 : TULUS DAN IKHLAS

" Jika Kita Berbuat Baik Dengan tulus, Kita Akan Menikmati Kebaikan Kita Tanpa Pusingkan Penilaian Orang Lain. Jika Beramal Tak Ikhlas, Niscaya Akan Banyak Mengeluh Dan Kecewa."

      Hari ke-11 : KEBURUKAN DIRI

" Tidak Ada Yang Lebih Berbahaya Bagi Kita Selain Keburukan Kita Sendiri. Adapun Keburukan Orang Lain Akan Menjadi Ladang Pahala dan Kemuliaan Jika Kita Sikapi Dengan Sikap terbaik.

      Hari ke-12 : LELAH BATIN

"Lelah Badan Tak Seberapa Dibandingkan Lelah Batin, Penyebab Lelah Batin Di Antaranya Terlalu Berharap dan Bergantung Kepada Sesama Makhluk Bukan Kepada Penciptanya."

      Hari ke-13 : SENANG MENGHARGAI

" Kita Merasa Senang Jika Dihargai. Kita Pun Menaruh Hormat Kepada Yang Menghargai. Ketahuilah Orang Lain Pun Persis Sama. Oleh Karena itu, Janganlah KIKIR Untuk Menghargai Niscaya Akan Terhormat."

      Hari ke-14 : BERHATI-HATI LEBIH BAIK

" Sikap Berhati-hati Akan Lebih Aman Dan Menyelamatkan. Janganlah Tergesa-gesa dan Ceroboh dalam Berkomentar. Berkata-kata, Mengambil Sikap dan Keputusan, Haruslah dengan Kejernhan Hati dan Pikiran."

      Hari ke-15 : BICARA SECUKUPNYA

" Berlatihlah Untuk Bicara Secukupnya, Hentikan Pembicaraan Walau Masih Ingin Karena Yang penting Adalah Perlu dan Manfaat Yang Dirasakan Orang Lain, Bukan Keinginan Kita berbicara"

      Hari ke-16 : BERTAMBAH SYUKUR

" Luangkanlah Waktu Untuk Mengenang Saudara Kita Yang Kelaparan, Tak Punya Tempat Berteduh, Yang Fakir Miskin Atau Yang Teraniaya, Niscaya Akan Bertambah Syukur Terhadap Nikmat Yang Ada."

      Hari ke-17 : ALLAH LEBIH TAHU

" Boleh Jadi ALLAH Mengabulkan Harapan Kita dengan Tak Memberi Apa Yang Kita Inginkan Karena Dia Mahatahu bahaya yang akan menimpa di balik keinginan kita."

      Hari ke-18 : JANGAN TAKUT TUA

Jangan Takut Menjadi Tua Karena PAsti Menua. Namun, Takutlah Tidak Menjadi Dewasa Karena Kedewasaan, Sikaplah Yang Menjadi Jalan Kebahagiaan dan Kemuliaan "

      Hari ke-19 : HIDUP SULIT

" Barangsiapa  Yang Selalu Ingin Mudah dan Menghindar dari Hal Yang Sulit, Niscaya Akan Menjadi Penuh Kesulitan Dan Ketegangan Dalam Mengarungi Hidup ini "

      Hari ke-20 : HIDUP MUDAH

Barangsiapa Yang Selalu Siap Dan Melatih Diri Untuk Menghadapai Situasi Sulit, Maka Dia Akan Menghadapai Kesulitan Dengan Tenang dan Mudah "

      Hari ke-21 : HALAL DAN HARAM

" Apa Yang Paling Menjadi Musibah Bagi Diri Kita Adalah Tertukarnya Yang Halal Dengan Yang Haram. Bukan Kebaikan dan Berkah Yang Didapatkan, Melainkan Keburukan dan Laknat.

      Hari ke-22 : SALING MENYAYANGI

"Hidup Jauh Lebih Indah, Aman, dan Menyenangkan Jika Saling Menyayangi. Namun Kasih Sayang Tidak Akan Datang  dengan Diminta.  Kasih Sayang Akan Datang Jika Kita Yang Memberi."

      Hari ke-23 : SEGERA BERAMAL

" Jangan Sia-Siakan Kesempatan Beramal dengan Berlambat-Lambat Atau Mengabaikannya. Kesempatan Jarang Datang Dua Kali. Sesungguhnya Kesempatan Itulah Karunia Yang Membuka Pertolongan ALLAH."

      Hari ke-24 : SEMBUNYIKAN KEBAIKAN

Berbuat Baik Itu Nikmat Dan JAuh Lebih Nikmat Jika Kita Menyembunyikannya, dan Ikhlas Karena ALLAH Semata, Nikmat Akan Pudar Jika Kita Ceritakan Karena Ingin Pujian Manusia."

      Hari ke-25 : TAHU BATAS

Hanya Orang yang Tahu Batas dan Disiplin dengan Bataslah Yang Menikmati Hidup Karena Orang Yang Tidak Tahu Batas Dan Berlebihan Akan Menimbulkan Masalah "

      Hari ke-26 : KELEMBUTAN HATI

" Air Yang Lembut Bisa Mempersatukan Bahan Besi , Semen, Kerikil, dan Pasir Sehingga Menjadi Beton Yang Kokoh. Memang Kelembutan Hatilah Yang Akan Bisa Mempersatukan."

      Hari ke-27 : NIKMAT PEMAAF

" Alangkah Nikmatnya Jadi pemaaf. Batin Tenang Dan Lapang: Urusan Menjadi Mudah Dan Tuntas: Hidup Bahagia Dan Mulia : Serta Dicintai Dan DIhormati."

      Hari ke-28 : SENGSARA KARENA TERSINGGUNG

" Allangkah Sengsaranya Orang Yang Mudah tersinggung, Hidup Tidak Pernah tenang Dan Nyaman ; Amat Mudah Marah ; Tiada Kebahagiaan ; Serta Tak Disukai Orang lain.

      Hari ke-29 : SENGSARA KARENA PAMER

" Jauhi Sikap Riya, Pamer Harta, Kedudukan, Gelar, Dan Penampilan, Karena Semakin Pamer, Justru Semakin Sengsara Dan Semakin Diminati Penjahat. Justru Kesederhanaanlah Yang Akan menambah Pesona "

      Hari ke-30 : JANGAN BERHENTI BELAJAR

" Seseorang Yang berhenti belajar Maka Akan Berhenti Pula Kemampuannya, Padahal Masalah Yang Dihadapi Tak Akan pernah Berhenti, Bahkan Bertambah. Oleh Karena Itu, Tiada Hari Tanpa Belajar. 

Nasihat Imam Ali R.A

January 8th, 2006 by tsabita

Ucapan Imam Ali R.A. kepada seorang laki-laki yang meminta
nasihatnya :



Jangan menjadi seorang yang mengharap kebaikan akhirat tanpa beramal untuknya,
dan jangan menunda-nunda tobat dengan memperpanjang angan-angan (untk bertobat).

Jangan pula menjadi orang yang berbicara tentang
dunia dengan ucapan-ucapan seorang zahid yang hatinya tidak
tertambat kepadanya, sedangkan dalam kenyataannya ia melakukan perbuatan
orang-orang yang sangat menginginkannya. Bila diberi sebagian darinya tidak
pernah ia merasa kenyang. Dan bila diberi sedikit, ia tidak merasa puas.

Ia tidak mampu mensyukuri apa yang dikaruniakan kepadanya, namun
selalu menghendaki tambahan dari yang masih tersisa. Melarang orang lain
melakukan dosa, tapi ia sendiri tidak berhenti melakukan dosa; dan menyuruh
orang lain berbuat kebaikan, tapi ia sendiri tidak mengerjakannya. Ia - katanya
- mencintai orang-orang saleh, tetapi tidak meniru amal mereka; dan membenci
orang-orang yang berbuat maksiat, tetapi ia sendiri salah seorang dari mereka.
Ia takut mati disebabkan banyak dosa-dosanya, tetapi tidak menahan diri darinya.

Bila jatuh sakit, ia menyesali dirinya, tetapi bila
telah kembali sehat, ia merasa aman berbuat sia-sia. Ia berbangga hati bila
beroleh afiat, tetapi segera berputus asa jika mendapat cobaan.
Bila ditimpa musibah, ia berdoa (karena) terpaksa, tetapi bila beroleh
kemakmuran, ia berpaling dengan angkuhnya.

Nafsunya mengalahkannya dalam hal yang masih
diragukannya, tetapi ia tidak mampu mengalahkan nasfsunya dalam hal yang telah
diyakininya (Ia yakin bahwa hidup sederhana mendatangkan kebahagiaan, dan
perbuatan baik menyebabkan kemuliaan, namun tidak mampu memaksa diri
melaksanakannya. Sebaliknya, iatidak sanggup menolak dorongan nafsunya bila
melihat kesenangan yang ia sendiri meragukan keuntungannya
.)

Ia merisaukan dosa orang lain meskipun lebih kecil
daripada dosanya sendiri; dan mengharap bagi dirinya pahala yang lebih besar
daripada nilai perbuatannya sendiri. Bila merasa cukup kaya, segera ia berbesar
hati dan merasa sombong. Akan tetapi bila ia jatuh miskin, segera berputus asa
dan merasa hina.

Bermalas-malasan bila mengerjakan kebaikan, tetapi
merengek melewati batas bila memohon sesuatu.

Bila
tergoda oleh sesuatu yang membangkitkan syahwat nafsunya, ia segera mendahulukan
maksiat dan mengundurkan tobat. Dan bila bencana menimpa, hampir-hampir ia
keluar dari berbagai ikatan Agamanya.

Sangat pandai memperingatkan orang lain (dari
perbuatan buruk), tapi ia sendiri tidak meninggalkannya. Berlebih-lebihan dalam
menasehati orang lain (dalam hal baik), tapi ia sendiri tidak mengerjakannya.

Amat banyak ucapannya, namun sedikit sekali amal
baiknya. Bersaing memperebutkan sesuatu yang fana, tapi sangat mudah melepaskan
yang baka. Yang benar-benar menguntungkan justru dianggapnya memberatkan, tapi
yang sesungguhnya merugikan dianggapnya menguntungkan. Ia takut mati, tapi
tidak segera menggunakan kesempatannya yang tinggal sedikit.

Ia lebih suka bersenagn-senang bersama orang-orang kaya daripada
berzikir bersama-sama orang miskin. Selalu memenangkan dirinya atas orang lain
dan tidak pernah mengalahkan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain. Ia
membimbing orang lain, tapi menyesatkan dirinya sendiri.

Maka ia pun ditaati, tapi ia sendiri selalu
menentang Tuhannya. Mengambil haknya sendiri sepenuhnya, tapi ia tidak memenuhi
kewajibannya. Takut kepada mkhluk, tapi tidak menghiraukan Tuhannya. Tak segan
ia melawan-Nya dengan menganggu Makhluk-Nya….

Semoga
bermanfaat…

NB : dikutip dari buku Mutiara
Nahjul Balaghah - Muhammad Al-Baqir

 

Liburan di Cibodas

July 3rd, 2005 by tsabita

Dalam rangka raras baru bisa jalan dan kepingiiiin sekali ngeliat Raras lari-larian di rumput.. akhir bulan April 2005 lalu, Raras, bunda, ayah, cica, n’ minah sengaja bawa Raras jalan-jalan ke Kebun Raya Cibodas - Puncak..

Resize_of_p1010065_1Sampai disana, raras langsung excited main bola.. kejar-kejar bola kesana kemari..
Karena kondisi tanah yg landai..  raras kadang lari sampai jauh dan jatuh ‘nyusruk’ karena belum mahir nge-rem langkahnya.. :))
Tapi.. meski badan mungilnya sering jatuh, Raras teuteb ceria n’ lari sana lari sini..
Kamu memang anak cewek yang kuat dan gak gampang cengeng sayang….
Bunda sayaaaang banget sama kamu! "Cup.. cup.. muah!!!"

Resize_of_p1010084Resize_of_p1010083

"He loves me.. he loves me not……… he loves me ….
  he loves me not.. he loves mee!!  " :)

Kebajikan yang tak berakhir

July 3rd, 2005 by tsabita

Al Sadaqat al Jariyah - The actions which outlives you!
Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir

1.  Give a copy of Quran to someone and each time they read from it, you will gain hasanaat -
Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan hasanah (kebaikan).

2.  Donate a wheel chair to a hospital and each time a sick person uses it, you will gain hasanaat -
Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda akan mendapatkan hasanah.

3.  Share constructive reading material with someone -
     Berbagi bacaan yang membangun dengan seseorang.

4.  Help in educating a child -
    Bantu pendidikan seorang anak

5.  Teach someone to recite a dua. With each recitation, you will gain hasanaat -
Ajarkan seseorang sebuah do’a. Pada setiap bacaan do’a itu, Anda dapat hasanah.

6. Share a dua or Quran CD -
     Berbagi CD Quran atau Do’a.

7.  Participate in the building of a mosque -
     Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid.

8.  Place a water cooler in a public place -
     Tempatkan pendingin air di tempat umum.

9. Plant a tree.  Each time any person or an animal sits under its shade or eats from the tree, you will gain hasanaat -
Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda mendapatkan hasanah.

10. Share this with someone. If one person applies any of the above you will receive your hasanaat until the Day of Judgment -
Bagikan email ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah satu dari hal di atas, Anda dapat hasanah sampai hari Qiamat. Amiin…

——————————————————————————–

Oase Kehidupan

July 3rd, 2005 by tsabita

(Diambil dari sebuah milis…. )

Tanganmu, Ibu…

Ibumu adalah

Ibunda darah dagingmu

Tundukkan mukamu

Bungkukkan badanmu

Raih punggung tangan beliau

Ciumlah dalam-dalam

Hiruplah wewangian cintanya

Dan rasukkan ke dalam kalbumu

Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan..

(Emha Ainun Najib)

Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu
anggun menjumpai

Saya di depan pintu.

Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama.

Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini,
lama.

“Alhamdulillah,kamu sudah pulang” itu ucapannya kemudian.

Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih.

Sudah lama tidak pulang.

Ba’da Ashar,

“Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih”.

Gegas saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu

diisi setengahnya. “Ah mungkin hanya untuk membuat
beberapa gelas teh saja”

pikir saya

“Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram”.

Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga
setengahnya.

Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya.

Saya pandangi
bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu

suka sekali menanam bunga.

“Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu,
abis itu jemur di

pagar yah” pinta
Ibu.

“Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam” sekilas saya memandang Ibu

yang tengah
bersusah payah memasak.

Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng

dan cekatan dalam segala hal.

Sesosok wanita muda, sedang menyapu
ketika saya masuk rumah sepulang

dari ziarah. “Neng..” itu sapanya, kepalanya mengangguk ke
arah saya.

“Bu, siapa itu…?” tanya saya. “Oh itu yang bantu-bantu Ibu

sekarang” pendeknya.

Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling
tidak suka

mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam
pekerjaan rumah tangga.

Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.

Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya
menemaninya

tilawah selepas maghrib.

Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran

yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur’an.

Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput,
urat-uratnya

menonjol

jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun.

Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening

kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata.

Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang,
karena

tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?

“Dingin” bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di

pangkuannya.

Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya
membelai kepala saya.

Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang
dilimpahkannya tak berhingga.

Adzan isya berkumandang,

Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama

suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah.

Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan

At-Thariq.

Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti
tadi saya

pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. “Duh Allah,
sayangi Mamah” spontan

saya memohon. “Neng…” suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya

terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat,
saya rengkuh

tangan berkah itu dan menciumnya.

“Tangan ibu kenapa?” tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu

tersenyum maniss sekali.

“Penyakit orang tua”

“Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan
saja,

irit tenaga” tambahnya.

Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap

berlatarkan langit biru tak berpenyangga.

Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang
sudah

memerah sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh.

Dalam hening itu,
saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat

isya tadi.

Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang.
Telah banyak hal

yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit,

sejengkel apapun perasaannya menghadapi

kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan

letak jilbab ketika saya tergesa pergi.

Tangan yang selalu
dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari

kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh.

Tangan yang
menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian

yang saya jalani.

Tangan  yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna
dan

menyimpannya

di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang
katanya biar saya

lebih semangat belajar.

Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh

darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya

mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama,
huruf n dan m nya

mirip sekali.

Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam

suratnya,   selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri.

Ada sebuah puisinya yang saya sukai.

Ibu memang suka menyanjung :

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam

Bukan!, kau lebih dari itu

Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,

Bukan!, kau lebih dari itu,

Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,

Bukan!, kau lebih dari itu

Kau adalah Sinopsis semesta

Itu saja

Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu
yang saya baca

dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian.

Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang,

kesabaran, cinta, ketulusan….

Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja

makan untuk sarapan?

Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika
mendoakan

anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki
hidup?

Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya
membereskan

tempat tidur kita?

Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan
tangannya?..

Pernahkah..?

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya

“Bu,

ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak”.

“Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga
Ibu dengan baik di

sini.

Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang”

Jawabannya ringan.

Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu

tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak
Allah.

Sebelum pergi, saya merengkuh kembali
punggung tangannya, selagi sempat,

saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah
dipersembahkannya untuk saya.

Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya
saya ciumi

sepenuh takzim.

Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi
kesempatan meraih

tangannya,

meletakannya di kening. ***

Bagaimana dengan kalian para sahabat?

Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer

dan membaca tulisan saya ini.

Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi
seseorang yang

menjadi kebanggaan.

Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga.

Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk
mengajaknya bahagia.

Inilah saatnya, inilah masanya…

· Abirayhan dari mahabbah12 -


Tak akan pernah sebanding

April 20th, 2005 by tsabita

Sobat, pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini?

Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua.
Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing.

Betapa sepinya mereka.

Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita buang "pup" di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba-tiba anaknya sakit.

Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti  mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.

Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yang kita lakukan.
Mereka hanya bisa mengelus dada karena teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum.

Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar? Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita.
Pernahkah kita tahu Ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita?

Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan?

Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan kristal  kecil hadiah ulang tahun dari teman kita?
Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?

Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa "menghidupi" diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia).

Lalu?
Mungkinkah kita bisa seperti Ismail  yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa yang dihanyutkan ketika bayi? Ternyata kita masih sangat jauh…
Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?

Sobat, bantu aku agar optimis!
Ya, masih banyak waktu untuk mmbahagiakan mereka. Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan "tidak" ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang  bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi  mereka saat ini juga, sapa mereka dengan
hangat, pastikan nada suara kita bahagia!

Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu!
Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan.
Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan
menemani di peristirahatan terakhir nanti.

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami,
kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil.

Jadikan kami termasuk anak-anak yang saleh ya Allah hingga doa-doa kami
termasuk doa-doa yang berkenan bagi Engkau. Amin."